Ganti Edjaan Lama

balik ke Edjaan Lama

Wednesday, August 18, 2004

DIRGAHAYU INDONESIAKU!

Sepotong doa untuk tumpah darahku:

Where the mind is without fear and the head is held high;
Where knowledge is free;
Where the world has not been broken up
into fragments by narrow domestic walls;
Where words come out from the depth of truth;
Where tireless striving stretches its arms towards perfection;
Where the clear stream of reason
has not lost its way into the dreary desert sand of dead habit;
Where the mind is led forward by thee into ever-widening thought and action
Into that heaven of freedom, my Lord, let my country awake

(taken from Rabindranath Tagore's Gitanyali)


Ini Agustusan ke dua buat saya di OCEAN BARONES. Tanpa terasa OB menginjak tahun keduanya di laut Indonesia. Menyenangkan kerja dan merayakan agustusan disini. Meski konon ini sekaligus jadi tahun terakhir karena kalo gak ada perubahan rencana, Desember ini kontrak OB berakhir untuk kemudian masuk Dock di Keppel Fels Singapore lagi sebelum ditarik ke Australia. Tapi, lupakanlah itu untuk sesaat. It's Party Time!

Trus mengenai acaranya: Acaranya sebenarnya sama aja seperti tahun lalu. Ada Upacara bendera, pastinya. Yang diikuti seluruh crew, Expat maupun pribumi. Setelah itu dilanjutkan dengan pembagian door prize dan hadiah-hadiah untuk pemenang kuis safety. Dan acara paling dinanti - seenggak-enggaknya sama saya :P - acara makan BESAAAAR. Ada Lobster, tenderloin steak, sate kambing, kakap merah gede-gede, gak ketinggalan nasi tumpeng lengkap, banyak deh pokoknya. Hasilnya ...... jam 12 siang saya kekenyangan dan tewas dengan sukses :p


Monday, August 16, 2004

Terima kasih, Tuhan

siang di depan kantor IDI, Menteng.......
suatu episode dalam hari-hari sibuk Jakarta


Perempuan tua kumal lusuh memanggul bungkusan sarung dipundak rentanya, berjalan dari satu mobil ke mobil lain, berharap bisa mengais sedikit rejeki dari kemurahan hati sesamanya.
Ada beberapa keping logam seratusan didalam gelas plastik bekas Aqua ditangannya, pastilah tak cukup bahkan untuk sekedar membeli sepiring nasi berlauk tempe di warung tegal.
Lantas, bagaimana ia harus terus meniti hidup di sisa usianya?
Episode singkat itu mengusik nurani saya.
Sampai malam memeluk, wajah pasrah terbakar terik surya itu masih terbayang.

Beberapa hari belakangan memang ada rasa tak puas dengan hidup yang saya jalani.
Betapa tidak? Sampai menginjak tahun ke tiga puluh tiga hidup saya rasanya masih banyak mimpi yang belum lagi tercapai.
Pastinya sebagian mimpi itu berkisar seputar materi.
Lalu karenanya sempat saya down dan merasa gagal
Bahkan sampai menafikan betapa banyak nikmatNya yang saya terima.

Hari itu
Seorang pengemis tua disimpang Sam Ratulangi
Mengajari saya bahwa dalam hidup, begitu banyak karunia yang kita nikmati tanpa menyadarinya.
Bahwa jalan hidup yang terasa sulit ini masih lebih baik daripada jalan hidup banyak orang lain
Yang menerimanya dengan lapang dada dan rasa syukur.
Sepotong kalimat dari buku lama yang pernah saya baca terngiang ditelinga
"saya selalu merasa betapa malangnya hidup saya karena tidak bersepatu,
sampai kemudian saya bertemu orang yang tidak berkaki"


Malam semakin malam.
Hati kecil saya bersujud mengucap syukur.
Ketika setetes air bening mengalir dipipi
Semuanya terasa lebih indah.
Terima Kasih, Tuhan!

Thursday, August 12, 2004

Will This Be My Coffin?

Tiap kali berdiri disamping pesawat pikiran itu pasti moncul dibenak saya.
Will this be my coffin?
Sebagai orang yang mengidap acrophobia atawa takut berada di ketinggian, sebenarnya wajar-wajar aja kalo hal seperti itu kepikir. Meski kadarnya gak sampe kayak Dennis Bergkramp yang sama sekali gak mau naek pesawat.

Saya masih bisa naek pesawat meski dengan perasaan was-was terutama saat pesawat mo take off atau landing. Selebihnya saya bisa tenang-tenang aja di udara, termasuk masih bisa ngelirik-lirik kalo ada pramugari yang cakep :p

Biasanya yang bisa membantu menenangkan saya adalah dengan baca hasil-hasil penelitian yang nunjukin kalo pesawat adalah kendaraan teraman didunia.

Seorang penerbang senior yang diwawancarai di SCTV pun bertutur serupa. Pesawat adalah kendaraan teraman didunia, katanya. Ironisnya rekaman video itu diambil beberapa saat sebelum pesawat ringan yang dikemudikannya jatuh di Jawa Barat menewaskan seluruh penumpang pesawat itu termasouk sang pilot.

Dulu sebelum kerja di anjungan pengeboran minyak di selat Makassar ini, dalam setahun paling banyak 3-4 kali saya naek pesawat. Namun sajak setahun lalu paling sedikit 2 kali sebulan saya terbang melintasi Jakarta-Balikpapan. Belom lagi kalo saya mesti ke Makassar atau ke Palu menengok bokap. Tapi kayaknya rasa was-was itu tetap aja ada.
Apa orang lain juga merasakan hal yang sama?
Apa pikiran itu sempat juga terbersit di kepala mereka?
Will this be my coffin?
Ahh... sebentar lagi saya mesti menjawab pertanyaan itu.
(Ditulis di Sukarno-Hatta International Airport, August 11, 2004 06.25 a.m.)

SELAMAT JALAN PAK MANDAGIE ..........

Berita Kompas hari ini:
Denpasar, Kompas - Suasana duka menyelimuti atlet dan jajaran Pengurus Besar Federasi Aero Sport Indonesia menyusul kesuksesan mereka memecahkan rekor terjun payung formasi kerja sama di udara yang melibatkan 100 penerjun dari 17 negara, Rabu (11/8) di sekitar Bandar Udara Ngurah Rai, Tuban-Badung, Bali.

Salah seorang penerjun andal Indonesia, Theodorus Petrus Mandagie, meninggal akibat kecelakaan saat terjun sore, dalam rangka merayakan keberhasilan mereka memecahkan rekor tersebut.

Almarhum Theodorus Petrus Mandagie yang kerap disapa Theo Mandagie merupakan satu dari delapan penerjun payung Indonesia yang turut dalam upaya pemecahan rekor terjun payung formasi itu. Saat turut melangsungkan sunset yumping (terjun payung sore hari) dari ketinggian 14.000 kaki (sekitar 4.500 meter) pukul 18.07, Theo Mandagie gagal membuka payung utama dan payung cadangannya. Tubuhnya ditemukan di rawa-rawa di sisi selatan pagar bandar udara oleh penduduk setempat.


Satu lagi dari keluarga Mandagie pulang menghadap penciptanya melalui jalan yang sama.
Jalan yang dipilih sendiri oleh mereka dengan kesadaran dan dignity.
Seperti juga keinginan seorang jenderal tua yang memilih mati di medan perang daripada diranjang kamarnya.
Seperti hasrat pendekar pedang yang memilih mati dijalan pedang.
Inilah jalan mereka. Jalan yang mereka pilih karena cinta.
Relakan kepergian mereka
Tanpa perlu isak tangis. Apalagi penyesalan.

Selamat jalan Pak Mandagie
Seperti kalimat klise yang selalu saya tulis;
kematian hanyalah tidur panjang
Tetap tersenyum dalam tidurmu

Wednesday, July 28, 2004

TURUNAN KE BERAPA?

Lagi siap-siap mo safety meeting, tau-tau Pak Lucas, SOC (safety operation control) disini nanyain itu ke saja.
"Dok, tau gak dokter turunan ke berapa di garis keluarganya?"
?????
waks!

"Saya gak tau tuh Pak, gak pernah punya catetan kayak family tree gitu sih kita"
"kenapa Pak?"
saja balik nanya.
"oooooo, kalo saya juga gak punya, tapi sepertinya saya turunan ke-8"
?????

"Lho? Kok tau Pak??"

"soalnya nenek moyang saya dulu konon kaya-raya" katanja "konon hartanya gak habis tujuh turunan"

gdubrak!!!

Friday, July 16, 2004

MARITHA

Libur singkat satu minggu ternyata bukan hanya diisi dengan menimang-nimang Farrell dan Bryan, 2 cahaya mata saya. Meski tadinya sudah punya tekad untuk gak mau nyentuh kibor kompie selama liburan, tapi ternyata saya hanya tahan 4 kali 24 jam saja tanpa perangkat pintar ini.
Ada rasa rindu yang menyeruak, walaupun untuk sekedar menengok sisi-lain dan my virtual clinic. Menengok saja. Tanpa posting sama sekali.

Sebuah kejutan menyenangkan menanti di virtual clinic!
Seorang sahabat lama, menyapa dari jauh.
Lama sudah saya kehilangan kabarnya, selepas sekian tahun menghabiskan waktu bersama.

Semenjak SMA saya kenal dia. Tiga tahun bersama di SMADA Makassar, berlanjut lagi ke kampus perguruan tinggi cap ayam jantan, Universitas Hasanuddin. 6 tahun kita merasakan suka dukanya belajar jadi tukang obat disana. 6 tahun saja karena selepas itu dia menghilang. Saat saya dan teman lain masih sibuk mengejar mimpi sederhana untuk jadi dokter, dia memutuskan saatnya telah tiba baginya untuk pergi memulai pengembaraannya. Jauh kenegeri orang. Bersama itu pupus sudah kabar beritanya.

Juli hari ke enam dua ribu empat, sebuah pesan mampir ke tagboard saya. Pengirimnya Dr. Med. M. Ridwan Thahir, M.D.
Voila! What a pleasant surprise!
Sudah jauh dia melangkah.
Kunjungan balik ke websitenya menampilkan sederet foto-foto pengembaraannya. Curriculum Vitae-nya membiaskan jejak panjang langkah-langkahnya.
Ahh.... sudah jadi orang pula kau, sobat
Congratz, Buddy!

Wednesday, July 14, 2004

BULAN DI BALIK JENDELA

July 2, 2004
Somewhere between Balikpapan-Yakarta
Up in the sky.......


"Selamat malam, disini kapten pilot anda berbicara, saat ini kita sedang terbang diketinggian 28.000 kaki diatas permukaan laut, cuaca saat ini ... Bagus! Jarak pandang kurang lebih 10 kilometer dan kalau anda melihat keluar jendela, tampak bulan purnama, indah sekali"

Mendengar informasi kapten pilot Bouraq tadi - orang Bali, tapi saya lupa namanya - para penumpang penerbangan terakhir Bouraq Balikpapan-Yakarta termasuk saya kompak celingukan mencoba mencari bulan yang dimaksud. Dan memang benar. Saat itu lagi bulan purnama. Full Moon. Untung saja saya bukan warewolf!.

Melihat bulan purnama semua pasti sudah sering. Tapi melihat bulan tanpa perlu mendongak ke atas, ini pengalaman pertama buat saya. Mungkin karena baru pertama kali melihat bulan seolah sejajar dari balik jendela, kesannya jadi eksotis sekali.
Sayangnya malam itu saya lupa bawa kamera.

Bulan dibalik jendela menandai awal liburan saya yang hanya 1 minggu. Karena minggu berikutnya saya harus balik lagi ke Balikpapan dengan segala tetek bengek meeting dan pelatihan. Back to routinity. Tapi paling nggak ini awal yang sama sekali gak jelek.

Pulang kerumah disaat bulan purnama. Ada dua cahaya mata saya yang menanti dirumah. Juga ada .... ehm ... mamanya. Menanti. Dalam malam bulan purnama.
Yang konon pengaruhnya bikin 'hidup' lebih hidup.

Hmm, not a bad start.....

Wednesday, June 30, 2004

Je ne suis pas ici!

Saja lagi liburan dan nggak akan ada disini mulai 1 Juli 2004 sampe 14 Juli 2004.
Makasih sudah datang kesini ya

I am on vacation and will be out for 2 weeks starting from July 1, 2004 - July 14, 2004.
Thanks for coming!

Estoy el vacaciones y estare hacia fuera por 2 semanas que empiezan del de julio 1 de 2004 - de julio el 14 de 2004.
Gracias por venir!

(susah amat ngomongnya ya? :p
terserah mo ngomong pake bahasa apa pokoke
saja mah L-I-B-U-R euiy)

Tuesday, June 29, 2004

AIDS 2004 - XV
International AIDS Conference

Hari ini dapat imel dari teman tentang aktifis HIV/AIDS yang rupanya mo ngadain konfrensi di Bangkok, Juli 2004 nanti.
Konferensi internasional bertajuk AIDS 2004 - XV ini nantinya akan diramaikan acara long march untuk menuntut akuntabilitas dan aksi nyata terhadap penanggulangan AIDS. Yang lagi di Bangkok dan sekitarnya, kalo pengen terlibat silahkan catet yang dibawah ini deh:

CALL TO ACTION:

AIDS 2004 - XV International AIDS Conference:
Thai AIDS Treatment Activists Invite Allies to Join a March and Protest to Demand Accountability and Action on AIDS


SAVE THE DATE:

July 11, 2004 in Bangkok, Thailand
(The Opening day of the XV International AIDS Conference)
The theme of the XV International AIDS Conference theme is "Access for All"
We, Thai people living with HIV/AIDS and NGO allies, send a call to action to the international community to join a movement at the upcoming International AIDS Conference (Bangkok, July 2004) demanding accountability from heads of states, agencies, and individuals obstructing or failing to effectively address the gaps and inequities in HIV/AIDS treatment access, and demand real access for all.

BECAUSE PEOPLE ARE DYING NEEDLESSLY

- 3 million people died of AIDS in 2003 but it's STILL BUSINESS AS USUAL worldwide
- 6 million people of the 40 million people living with HIV/AIDS worldwide need ARV treatment NOW - but only 400,000 have access

BECAUSE WE DO NOT ACCEPT BROKEN PROMISES

More than 5.5 million PLWHA(People Living With HIV/AIDS) are without access to treatment because:
- National governments refuse to prioritize the fight against AIDS, and refuse to transform their rhetoric into concrete economic and political action;

- Rich donor countries that have broken their promises to spend $10 billion annually fighting global AIDS by 2005;

- International agencies have not made good on the promise to fill the deadly gap in access to treatment. By 2005, by the most optimistic estimates, only 240,000 additional people, or 4% of the total need, will access HIV/AIDS treatment through financing from

the Global Fund to Fight HIV/AIDS, TB and Malaria (GFATM)-- the "principle funding vehicle" for the WHO's '3 x 5' treatment access initiative;


BECAUSE WE KNOW HIV/AIDS CAN BE TREATED AND AFFORDABLE MEDICINES EXIST.


- Thai people living with HIV/AIDS and NGO allies, successfully lobbied and worked with our government to produce generic anti-retroviral drugs cheaply and developed comprehensive, community-based care programs so that universal access could be effectively delivered.

- Today, through a government program aiming to treat 50,000 people by 2005, we have already seen AIDS-related mortality drop by over 50%;


BECAUSE REAL ACCESS TO LIVE-SAVING TREATMENT AND PREVENTION IS NEEDED FOR ALL!


- PLWHA around the world are struggling to prevent national treatment programs from duplicating the social and economic inequities that put marginalized people, including rural people, women, children, men who have sex with men, and drug users last in line for life saving treatment;

- PLWHA around the world are threatened by ideologues attempting to thwart access to basic HIV prevention tools, particularly for the most vulnerable groups including women, men who have sex with men, migrant workers, prisoners, and injecting drug users;

- PLWHA face human rights violations in the form of repressive drug wars and policies, although 1 in 3 new infections outside Africa are the result of sharing of injecting equipment, and needle exchange has been proven to save lives without increasing rates of drug use;

BECAUSE EFFORTS TO FIGHT AIDS ARE UNDER ATTACK

- PLWHA around the world face bilateral donor programs that force treatment and prevention programs to abandon science and best practice, blocking life saving HIV prevention efforts, and blocking purchase of quality, low cost generic medicines;

- PLWHA around the world face barriers to access to affordable generic medicines as a result of regional and bilateral trade agreements with the U.S., undermining national sovereignty and capacity to address public health priorities such as HIV/AIDS;

BECAUSE WE KNOW WE CAN WIN AND THERE IS STILL MUCH MORE WORK TO BE DONE

- Even in Thailand, sometimes called the "next Brazil" in terms of treatment victories, where generic HIV/AIDS drugs are as cheap as USD $0.96 per day, deadly foreign policies threaten to undermine access to quality generic medicine, through efforts such as the U.S. government's proposed Free Trade Agreement (FTA) with Thailand.

- Access for all in Thailand is still not equitable; undocumented migrants, ethnic minorities denied citizenship, injecting drug users, prisoners and others still face non-medical exclusion criteria and social and economic barriers including health-care setting-based discrimination, which prevent them from accessing ARV.

- Activists in Thailand are demanding drug users worldwide get access to comprehensive prevention and treatment, not the threat of government sanctioned killing and unlawful detention;

BECAUSE SOLIDARITY AND ACTION ARE NEEDED TO WIN TREATMENT ACCESS FOR ALL, WIN THE REALIZATION OF OUR RIGHT TO HEALTH, AND TO STOP THE WAR ON HIV PREVENTION

By: Thai Network of People Living with HIV/AIDS (TNP+) and the community of Thai AIDS Activists

Saturday, June 26, 2004

Who wants to Live Forever?

Bangun pagi, karena pola tidur yang kadung dirusak sama EURO 2004, akhirnya saya malah surfing internet dan nemu sitenya Troy. Ada quote menarik disitu.

"The Gods Envy Us. They Envy Us Because We're Mortal"

Baca quote ini bikin saya jadi ingat impian kanak-kanak saya dulu. Ya. Saya pengen jadi orang yang gak bisa mati. Seperti para hero lainnya.

Beranjak dewasa masih kepikiran sama impian itu. Sampai suatu masa saya nonton Highlander. Versi tivi dari kisah hidup Duncan McLeod ini dimainin sama Adrian Paul.
Wow! Impian itu makin menjadi-jadi. Bayangin kalo saya bisa hidup 400 tahun. Gak tua-tua. Bicara pengalaman; 400 tahun menapak bumi, kayaknya semua hal bisa saya coba. Bicara duit; nyimpan ceban di bank aja bisa diitung berapa bunganya 400 tahun ke depan. Bicara pengetahuan; 400 tahun belajar apa sih yang saya gak tau?
Hidup sebagai immortal emang gak ada 'mati'nya :p

Tapi lantas saya nonton Highlander versi layar lebar dan denger soundtracknya yang ditulis sama Brian May.

Who wants to live forever,
When love must die


Mendadak ada kesadaran baru. Ada sisi lain yang sama sekali gak kebayang sebelumnya. Bayangin 400 tahun melihat orang-orang terdekat kita pergi satu per satu. Jadi tua dan mati. Sementara kita tetap muda dan tak pernah mati. Living the lonely life.
Baru saya sadar bahwa bahkan mati itu pun ternyata adalah rahmat!
So ..... who wants to live forever?

Friday, June 25, 2004

Les Yeux Pour Pleurer!


Dulu sebuah penerbitan di Prancis menulis headlines seperti itu, menyusul gagalnya Les Blues ke World Cup 1994.
Les Yeux Pour Pleurer! Kedua mata ini memang diciptakan untuk menangis.
Siapa sangka hari ini, sepuluh tahun berselang,giliran saya yang mesti mengucap kalimat itu.

Inggris Takluk!
Sebagai penggemar fanatik Inggris sejak 1988 sayapun ikut hancur.
Seperti orang yang bermimpi indah lalu tiba-tiba terbangun dan melihat dunia tak seindah impiannya. Seperti itu perasaan saya sekarang. Ada rasa gamang. Seolah tak percaya! Beberapa hari lalu mereka main begitu gemilang menggulung Kroasia tanpa ampun 4-2. Begitu sempurna di semua lini. Cepat, lugas, taktis. Namun semalam segalanya berubah. Inggris tadi malam adalah Inggris dalam penampilan terburuknya. Mereka beruntung bisa menahan tuan rumah 2-2 sampai akhir 2 kali 15 menit. Tapi andaipun menang adu penalti, itu sungguh kemenangan yang tak pantas.
Dan sejarah kemudian memang tidak memihak mereka. Penalty shootout lagi-lagi mengirim St. George's Cross pulang kandang.
Inggris Takluk!
Dan saya hanya bisa mengucap lirih kalimat itu.
Les Yeux Pour Pleurer
Kedua mata ini memang diciptakan untuk menangis .........

Tuesday, June 22, 2004

So Lonely

When everybody loves you,
you can never be lonely


[Counting Crows - Mr. Jones]


I feel so lonely now
is that means no one love me???

Tuesday, June 08, 2004

Sedang Goblok? Ato Lagi Gila?

Seharusnya saya duduk maniez disana
Didepan kompie dibuai sejuknya semilir angin buatan
Menikmati jalannya hidup yang toh gak jelek-jelek amat
Diketerpencilan rig offshore nun jauh ditengah samudra

Tapi kenapa malah milih mandi keringat disini
Antri untuk melengkapi lembaran-lembaran berkas
untuk bisa jadi ce-pe-en-es
calon pegawai negeri sipil
Dengan penghasilan yang nantinya melorot drastis
Sampai sepersekian dari yang sekarang?

Ahhhhh.....!
Jujur saya pun gak tau
Barangkali saya sedang goblok?
Ato malah lagi sableng?

Ada yang bisa kasih tau??????

Thursday, May 27, 2004

Sesama Kerabat

Si Anto adalah anak SD kelas satu. Dia punya teman satu sekolah namanya Clara. Karena Clara cantik dan manis, Anto jatuh hati pada Clara. Clara pun juga ternyata suka sama Anto.
Suatu hari, karena nggak tahan lagi, si Anto ngomong ke Clara,
"Clara, aku suka sama kamu. Sayang kita masih kecil.....nanti kalo kita sudah dewasa, kita menikah ya...?!"
Dengan wajah yang merona, Clara menjawab, "Anto, bukannya aku menolak . . . aku sih mau aja . . . Tapi dalam keluarga kami, ada tradisi bahwa kami hanya boleh menikah sesama kerabat saja. Paman menikah dengan bibi, kakek menikah dengan nenek, dan bahkan papa menikah dengan mama......padahal kan kamu bukan kerabat aku Anto."
Mendengar jawaban Clara, seketika Anto patah hati....

Monday, May 24, 2004

Sekolah? . . . . Enggak? . . . . Sekolah? . . . . Enggak ??????

Gimana ya?

Tangis Nirmala Tangis Kita

Nirmala Bonat
Nirmala Bonat memang bukan Lisa Bonet!
Kulit boleh sama item tapi nasib jelas jauh berbeda.
Kalo Lisa Bonet cukup berakting di depan kamera untuk meraup lembar demi lembar American dollar bill ke rekeningnya, Nirmala harus pergi meninggalkan kampung halamannya nun jauh di Tuapukas, Kecamatan Kualin, Timor Tengah Utara, NTT untuk jadi pembantu dinegeri orang. Itupun hanya untuk memperoleh penghasilan kurang dari 100 dollar sebulan.

Ketika berangkat ke negeri jiran, kurang lebih setahun lalu, pastilah tak terbetik sama sekali dibenak gadis lugu 19 tahun, putri semata wayang pasangan Daniel Bonat dan Marta Toni ini, akan kelamnya garis nasib yang menantinya di sana.

Semuanya bermula dari kesalahan kecilnya memecahkan mug yang lantas berujung pada pemukulan dengan gantungan baju oleh majikan wanitanya. Sejak itu hari-harinya diisi dengan tamparan, pukulan, bahkan siraman air panas.

"Satu hari ia marah besar saat saya menyetrika. Ia mengatakan cara strika saya tidak benar dan ia menampar saya," ujar Nirmala. "Ia mengambil strika dan menempelnya di dada saya,".

Sulit dipercaya tapi nyata. Bahwa dijaman seperti sekarang ini ada yang sanggup berbuat begitu! Sungguh diluar rasa perikemanusiaan! Bahkan tawanan Irakpun tidak sampai mengalami nasib seburuk itu.

Begitu rendahkah nilai TKI di mata mereka?
Ini bukan masalah Nirmala semata, seorang pejabat KBRI di Singapore membuka data mengejutkan betapa dalam tiga tahun terakhir 100 TKI meregang nyawa akibat jatuh dari gedung tinggi disana. Bahkan berita televisi sore ini mengabarkan nasib Sri, TKI kita di Arab Saudi yang pulang dalam keadaan koma akibat pukulan di kepala!

Tangis Nirmala, Tangis Sri dan tangis para TKI lainnya adalah tangis kita. Sampai kapan kita akan terus menutup mata? berpura-pura tuli sambil menikmati hasil keringat mereka? Bukankah negara kita ini dibangun dengan dana yang sebagian berasal dari hasil sabung nyawa mereka?

Monday, May 03, 2004

KILL BILL



Ada-ada saja kerjaan orang iseng, tapi salut untuk kreatifitasnya!
Cuman saya jadi mikir kalo ulah seperti ini juga di bikin disini, ngisengin foto mantan ibu negara apa gak bakal diserbu polisi dia?

WHY WORRY ?

Baby I see this world has made you sad
Some people can be bad
The things they do, the things they say
But baby I'll wipe away those bitter tears
I'll chase away those restless fears
That turn your blue skies into grey
Why worry, there should be laughter after the pain
There should be sunshine after rain
These things have always been the same
So why worry now
Baby when I get down I turn to you
And you make sense of what I do
I know it isn't hard to say
But baby just when this world seems mean and cold
Our love comes shining red and gold
And all the rest is by the way
Why worry, there should be laughter after pain
There should be sunshine after rain
These things have always been the same
So why worry now?

(taken from Dire Straits's Why Worry-Brothers in Arm album, 1985)

Monday, April 26, 2004

BAYI TANPA TULANG LAHIR DI BALIKPAPAN!



Sebuah koran lokal di Balikpapan hari ini memberitakan tentang lahirnya bayi tanpa tulang.
Menurut harian itu, kondisi bayi dengan berat 3,5 kg yang lahir di daerah Sepinggan itu, sampai saat ini sehat sehat saja. Hal ini juga dibenarkan oleh seorang dokter spesialis kebidanan yang menolong persalinan sang bayi.

"Awalnya memang agak rewel dan nyusunya sedikit, tapi sekarang sudah bisa minum banyak" ujar Butet Boru Sihombing, ibu sang bayi.

Ketika ditanyakan apakah sebelumnya telah mempunyai firasat akan melahirkan bayi tanpa tulang, Butet menjawab:
"Oh sama sekali tidak! Tadinya malah berencana akan menemani disini karena ini anak pertama saya, tapi tiba-tiba tulang harus dipanggil balik ke Medan karena ada urusan bisnis yang mesti di tuntaskan"

gdubrak!
##?&8